Menu Close

Tinggi Badan Bayi, Kapan Bisa Dikatakan Kurang?

Tinggi Badan Bayi, Kapan Bisa Dikatakan Kurang?

Tinggi badan bayi mungkin jadi salah satu sumber kekhawatiran, khususnya bagi orang tua baru. Mungkin Anda khawatir dan merasa tinggi badan bayi kurang.

Seharusnya sudah ada grafik pertumbuhan tinggi badan bayi yang bisa jadi patokan. Anda bisa menggunakannya sebagai pembanding dengan tinggi badan si kecil.

Meski begitu, setiap bayi berbeda-beda, kecepatan pertumbuhannya juga berbeda-beda. Anda sebenarnya tidak perlu khawatir ketika tinggi badan bayi tampak kurang, mengapa begitu?

Tinggi badan atau panjang badan sih?

Tinggi badan sama dengan panjang badan pada bayi. Meski tinggi badan penting, yang sebenarnya lebih krusial bagi pertumbuhan bayi adalah perkembangan berat badannya.

Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), ukuran tinggi atau panjang badan juga menjadi salah satu indikator untuk mengukur pertumbuhan bayi.

Ukuran pertumbuhan panjang bayi ditentukan dengan rumus panjang badan berdasarkan usia (PB/U). Rumus ini dapat menentukan apakah tinggi badan si kecil tergolong kurang, normal, atau lebih.

Di usia bulan-bulan awal, bayi belum dapat berdiri tegak. Karena itu, pengukuran biasanya dilakukan dalam posisi berbaring untuk menentukan panjang bayi.

Cara pengukuran inilah yang membuat tinggi badan bayi lebih umum disebut panjang badan, dengan rumus PB/U. Pengukuran ini biasanya dilakukan untuk bayi di bawah usia dua tahun.

Nantinya, ketika anak Anda sudah bisa berdiri tegak, barulah ukurannya berubah menjadi tinggi badan (karena diukur dalam posisi berdiri, tidak dalam posisi berbaring lagi.)

Ukuran tinggi badan bayi normal

Daftar berikut ini berisikan perkiraan rata-rata tinggi badan bayi laki-laki dan perempuan dalam 12 bulan pertama. Data ini didapatkan dari tabel WHO.

Perlu diingat, data ini adalah perhitungan rata-rata. Bisa jadi bayi Anda lebih pendek atau lebih tinggi, tidak perlu khawatir.

Tinggi Badan Bayi, Kapan Bisa Dikatakan Kurang?

Kapan tinggi badan bayi disebut kurang?

Mengutip IDAI, pengukuran kasar pertumbuhan bayi usia 12 bulan adalah dengan memperhatikan apakah panjang badannya sudah meningkat 50% dari panjang lahir.

Penilaian dilakukan dengan ambang batas Z score menggunakan satuan pengukuran standar deviasi (SD) yang dirumuskan Hukor Kementerian Kesehatan RI berdasarkan panduan WHO.

Berikut kategori penilaian panjang badan bayi berdasarkan usia (PB/U)

  • Sangat pendek: kurang dari -3 SD
  • Pendek: -3 SD sampai dengan kurang dari 2 SD
  • Normal: -2 SD sampai dengan +3 SD
  • Tinggi: lebih dari +3 SD

Artinya, panjang atau tinggi badan bayi disebut normal jika berada di rentang -2 hingga +3 SD pada tabel WHO. Di bawah -2 SD, tinggi badan bayi terbilang kurang, lebih dari +3 SD dapat dibilang tinggi.

Gampangnya, Anda hanya perlu melihat tabel di atas untuk menentukan apakah bayi tergolong pendek, normal, atau sangat tinggi.

Selain itu, ada faktor-faktor lain yang dipertimbangkan dalam menilai pertumbuhan bayi. Misalnya, tinggi kedua orang tua juga menjadi indikator penting tentang perkiraan tinggi anak ketika dewasa nanti.

Seorang anak yang lahir dari orang tua dengan tinggi di bawah rata-rata kemungkinan besar juga akan tumbuh dewasa dengan tinggi badan di bawah rata-rata pula.

Perlu diingat juga, Anda tidak bisa membandingkan laju pertumbuhan suatu anak dengan lainnya. Setiap anak tumbuh dalam kecepatannya masing-masing dan berbeda-beda.  

Penyebab tinggi badan kurang

Ada beberapa faktor penyebab tinggi badan bayi kurang dari ukuran ideal, mulai dari faktor keturunan hingga kasus kurang gizi. Karena itu, sebaiknya Anda berkonsultasi dengan dokter.

Kasus panjang atau tinggi badan kurang pada bayi ini biasa disebut dengan istilah short stature. Seperti yang dijelaskan di atas, short stature dapat ditentukan dari tabel panduan WHO dengan rumus SD.

Pertumbuhan lambat di bawah normal mungkin bisa jadi tanda adanya masalah kesehatan yang signifikan, tetapi pada sebagian besar kasus, anak yang bertubuh pendek tetap sehat dengan tingkat pertumbuhan normal.

Berikut sejumlah penyebab tubuh pendek bayi yang tidak terkait dengan suatu kondisi penyakit:

  • Perawakan pendek keturunan keluarga (salah satu atau kedua orang tua bertubuh pendek, tapi tingkat pertumbuhan anak normal)
  • Keterlambatan pertumbuhan dan pubertas (anak termasuk pendek selama tahun-tahun awal, pubertas terlambat, tetapi tinggi badan melonjak setelah pubertas)
  • Perawakan pendek idiopatik (tidak ada penyebab khusus yang ditemukan, tapi anak dalam kondisi sehat)

Tubuh pendek anak kadang-kadang juga disebabkan oleh masalah kesehatan tertentu. Namun, biasanya Anda bisa mengamati gejala masalah kesehatan ini dengan cukup jelas.

Berikut sejumlah penyebab tubuh pendek bayi yang disebabkan oleh penyakit tertentu:

  • Kondisi medis kronis – penyakit yang memengaruhi organ-organ utama seperti penyakit jantung, asma, radang usus, ginjal. anemia, dan gangguan tulang.
  • Kekurangan hormon – termasuk hipotiroidisme, defisiensi hormon pertumbuhan, diabetes, dan sindrom Cushing.
  • Kondisi genetik – termasuk Down syndrome, Turner syndrome, Russell-Silver syndrome, Noonan syndrome, dan penyakit tulang langka seperti achondroplasia.
  • Obat-obatan – seperti pengobatan untuk attention deficit hyperactivity disorder (ADHD) dan steroid hirup untuk asma.
  • Bayi dengan riwayat lahir kecil.
  • Nutrisi buruk.

Catatan

Jika si kecil tidak menunjukkan gejala-gejala mengkhawatirkan, pada umumnya Anda tidak perlu khawatir dengan tinggi badan bayi. 

Pastikan bayi mendapatkan nutrisi yang diperlukan, makan dengan cukup, berat badan bertambah, dan bisa mencapai titik perkembangan tertentu. 

Segera bicara dengan dokter jika Anda merasa khawatir dengan perkembangan si kecil. Dokter dapat menentukan adanya masalah tinggi badan bayi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *